Sejarah Desa Arjosari

Asal Usul Desa Arjosari

Desa Arjosari dulunya merupakan kawasan hutan belukar bernama "Bata Luluh" di Gunung Kendeng yang membentang di perbatasan Kabupaten Malang dan Kabupaten Malang. Kawasan tersebut diyakini masyarakat sebagai batas antara kerajaan Jenggolo dan Kediri yang mulai didatangi oleh perantau dari Jawa Tengah dan Ponorogo untuk mencari penghidupan. Para leluhur membuka lahan dengan menebang pohon-pohon besar dan menetap di kawasan dataran yang lebih tinggi karena saat itu masih didominasi kawasan rawa-rawa.

 

Perkembangan Desa Arjosari
Seiring berjalannya waktu, pembukaan hutan meluas dan membentuk 5 dusun yang ada di Desa Arjosari. Dusun pertama yang dibuka adalah Tumpakmiri, dinamakan demikian karena lokasinya yang berada di puncak (tumpak) pegunungan dan banyak ditumbuhi tanaman kemiri. Selanjutnya pada tahun 1901, Mbah Djojokarto merintis Kedungwaru yang diambil dari sebuah lubuk (Kedung) luas dengan pohon waru di tepinnya. Selang 4 tahun Mbah Kyai Pon membuka Sumberbelis karena banyaknya tanaman cabai kecil, namun dusun ini telah berubah nama menjadi Sumbertimo dikarenakan pohon timo disana, perluasan berlanjut dengan berdirinya Mentaraman yang dirintis oleh tokoh perantau dari Mataram disusul Mbah Citro yang membentuk Sidodadi pada 1920.

Sebelum menjadi desa mandiri, wilayah arjosari masih berstatus perdukuhan dibawah Desa Pangganlele yang sekarang dikenal dengan Arjowilangun. Pemekaran dimulai pada 1905 yang secara resmi menetapkan Arjosari sebagai Desa, dilanjutkan dengan pemilihan Kepala Desa pertama pada 29 Mei 1905 menggunakan metode tradisional "Bitingan" dengan hasil penetapan Bapak Singowarso sebagai Kepala Desa pertama. Alur kepemimpinan terus berlanjut hingga saat ini, jabatan Kepala Desa dipegang oleh Bapak Imam Mahmudi S.Pd yang menjabat sejak 2011 dan telah memasuki periode ketiga.

Butuh Bantuan?

Hubungi pemerintah desa untuk informasi lebih lanjut.

Isi Form Pengaduan